KOMODO POLOTIK INDONESIA

 

Peta Politik Indonesia semakin seru. Setelah ribut-ribut antara Cicak dan Buaya, kini muncul pula Komodonya. Reaksi masyarakat terhadap penanganan perseteruan antara polisi melawan KPK, yang terkesan berat sebelah, sangat menguntungkan polisi. Wajar saja jika ada polisi yang menyebut diri dari kelompok buaya yang bernada ancaman. Kau ini cicak, jangan coba-coba melawan buaya ! Pernyataan menimbulkan masalah besar, Presiden bertindak cepat dan membentuk tim khusus untuk menangani kasus ini. Ketua tim adalah si Abang. Pengacara senior yang pada detik-detik kejatuhan Soeharto berani menunjuk-nunjuk hidung penguasa tersebut. Nah, kalau KPK itu Cicak, polisi itu Buaya, maka kita beri nama tim tersebut sebagai Komodo. Karena hanya komodo yang bisa menyelesaikan kasus yang menyangkut buaya. Mudah-mudahan tim komodo ini cukup perkasa.

Pimpinan Komodo, yang juga salah satu penasehat Presiden ini adalah si Abang. Nama aslinya Adnan Bahrum Nasution, tetapi lebih kita kenal dengan nama Adnan Buyung Nasution. Lahir di Jakarta 20 Juli 1934. Seorang pengacara yang sangat senior, dan sangat aktif semenjak muda. Salah satu organisasi dirikannya adalah Lembaga Bantuan Hukum yang sangat akrab dengan para pencari keadilan. Hasta Aksara versi Selatan milik Abang adalah :

Abang Shio Anjing, memiliki elemen utama Air Besar Ren. Air mewakili kecerdasan, dalam hal ini, abang memang nomor satu. Air berwarna hitam, penampilannya yang hitam memang cocok dengan warna elemen utamanya. Air juga tidak bisa diam, selalu mengalir dan mencari kesibukan. Ia bersama adiknya Samsi Nasution sejak usia 12 tahun telah terjun ke pasar menjadi pedagang kaki lima di Kranggan, Yogyakarta. Ibunya juga berjualan Cendol di sana. Ayahnya, R. Racmat Nasution seorang pejuang gerilyawan melawan Belanda. Rahmad Nasution adalah salah seorang pendiri kantor berita Antara dan harian Kedaulatan Rakyat. Dia pula yang merintis berdirnya harian berbahasa Inggris The Time of Indonesia.

Terpengaruh ayahnya, Buyung kecil juga sudah aktif dalam organisasi perjuangan. Ketika SMP di Yogyakarta, ia ikut Mopel (Mobilisasi Pelajar) dan melakukan aksi protes pendirian sekolah NICA di Yogyakarta. Ia ikut merusak sekolah dan melempari guru-guru sekolah tersebut. Ia sangat berbakat aktivis.

Lulus kuliah, ia bekerja sebagai jaksa, tetapi kaaktivafannya tidak menunjang karirnya, ia tidak terlalu disukai. Akhirnya ia meninggalkan bangku jaksanya dan mendirikan LBH setelah tahun 1968, tepatnya pada tanggal 28 Oktober 1970. Juga membuka kantor avokat. Ternyata keduanya bekembang baik. Saat itu berada pada peruntungan Naga Chen yang memang saat yang menentukan baginya.

Mulai tahun 2000, periode hidupnya memasuki Monyet tanah Wushen, salah satu momen sangat baik dalam hidupnya. Ia memiliki rumah besar di Lebak Bulus, dan menjadi anggota dewan pertimbangan Presiden sejak 2005. Kini mendapat penghargaan luar biasa menangani kasus Cicak dan Buaya. Ibaratnya telah menjadi Komodo politik Indonesia. Selamat berjuang bang !



Categories: Ba Zi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: