Selalu optimis

Seorang tentara Jepang tertangkap tentara Amerika pada perang dunia ke-2. Ia dijebloskan dalam penjara bawah tanah. Di sana terdapat beberapa teman sepasukannya. Pada mulanya mereka yakin, tidak lama lagi temannya akan datang membebaskan mereka. Tetapi satu demi satu hari berlalu, pembebasan tidak pernah terjadi. Beberapa di antaranya mulai merasa tidak tenang. Bahkan ada yang meninggal dunia karena frustasi dan kesedihan yang sangat berat.

Walau demikian, tawanan terakhir itu tidak pernah kehilangan keyakinan diri. Ia selalu berpikir : “Mestinya kami sudah mati di medan perang. Sekalipun kini berada dalam tahanan, setidaknya aku masih hidup. Ini karunia yang pantas disyukuri !” “Walaupun sebagai tawanan, setiap saat mungkin akan di hukum mati, namun hingga kini aku masih memiliki secercah harapan, aku harus tetap hidup, bersabar menunggu datangnya keajaiban.”

Dengan demikian, tawanan itu melewati hari-harinya dalam keyakinan dirinya yang kuat. Ia berpendapat, kematian adalah jalan yang harus ditempuh setiap orang, jadi tidak perlu ditakuti. Selama masih hidup, ia sudah merasa puas dan menghargai hidupnya. Kalau begitu, ia harus selalu berpikir positif, mencari dan mengerjakan hal-hal yang menyenangkan selama ia masih diberi kehidupan. Pandangan positifnya itu mendorong dirinya untuk belajar bahasa Inggris dari para penjaga penjara tersebut. Tanpa disadarinya, dalam waktu cepat ia sudah bisa berdialog baik dengan para petugas penjara.

Perang akhirnya usai. Karena adanya jaminan dari para petugas penjara, tawanan tersebut dengan cepat mendapat kebebasan dan kembali ke Negara asalnya. Di Jepang, ia bahkan diangkat menjadi pengajar bahasa Inggris yang baik di Universitas ternama. Itulah berkah tak terpikirkan dari pandangan positifnya selama menjadi tawanan perang.

Dalam keadaan seperti itu, orang yang pesimis tidak saja menyia-yiakan waktunya yang berharga, tetapi juga membuat hidupnya kehilangan warna, bahkan nyawa. Sebaliknya orang yang optimis, dapat memanfaatkan setiap detik dalam kenyataan hidupnya untuk meningkatkan kualitas diri, membuat hidup selanjutnya penuh dengan rona dan warna.

Perhatian :
Tahanan terakhir itu selalu optimis dan menjalin komunikasi yang baik dengan petugas tahanan, secara tidak langsung menjadi mahir berbahasa Inggris dan memperoleh manfaat tidak terkira dikemudian hari setelah bebas dari penjara.

Hikmah yang bisa diperoleh :
Sebuah pepatah China mengatakan : “Dengan mempertahankan sebuah gunung berhutan hijau, tidak perlu takut kekurangan kayu bakar.” Artinya asal jiwa masih bertahan hidup, tetap akan memiliki masa depan. Optimisme tinggi yang ditunjukkan sang tahanan tersebut telah membuktikan hal tersebut.

Jakarta, 29 January 2010


Xiangyi



Categories: Cerita Kebijaksanaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: