Ceng Guo Fan

Saat pemerontakan Kerajaan Surga Tai Ping (太平天國), Ceng Guo Fan (曾國藩 1811 – 1872) sedang berada di kampung halamannya, daerah Xiang Nan (湘南) menjalankan masa bakti (beristirahat total) ibundanya yang meninggal dunia. Ia diperintahkan membentuk pasukan rakyat setempat guna menumpas pemerontakkan tersebut.

Dibawah bimbingan dan latihan keras Ceng Guo Fan, serta dukungan peralatan modern dari barat, Pasukan Xiang pimpinannya itu bahkan dikabarkan lebih hebat dari pasukan inti pemerintah. Keberhasilan Ceng Guo Fan mengatasi pemerontakan, membawanya menjadi kordinator militer empat provinsi, yaitu provinsi Jiang Su (江蘇), An Hui (安徽), Jiang Xi (江西) dan Zhe Jiang (浙江). Menjadikan dirinya orang dari suku Han pertama yang memegang kekuasaan militer terbesar sepanjang sejarah dinasti Qing.

Pada saat popularitas dan kekuasaan Ceng Guo Fan mencapai puncak, semua orang berbondong-bondong datang memberi selamat, dikala itulah Ceng merasakan bayang-bayang ancaman yang sangat berat. Ia mengerti betul falsafah ungkapan kuno yang mengatakan “Menemani kaisar bagai menemani macan.” Ia menyadari kekuasaannya telah terlalu besar, hingga telah mulai mengancam kekuatan kekuasaan pusat. Kalau begitu terus, mala petaka akan segera menerpa dirinya. Sekalipun di depannya, kaisar Xian Feng (咸豐) memuji dan memberi imbalan sangat besar kepadanya, tatapi berbagai macam komentar tidak mengenakan tentu akan keluar dari mulut orang-orang disekitar kaisar. Karena itu, Ceng Guo Fan memutuskan untuk mundur dari kekuasaan, agar tidak tertimpa bencana.

Maka Ceng Guo Fan mengajukan surat pengunduran diri, membubarkan pasukan rakyatnya dan ingin kembali ke desanya menikmati hari tua. Kasar Xian Feng sangat gembira akan keputusan Ceng yang mengerti perasaannya tersebut, namun demikian ia hanya mengizinkannya membubarkan pasukan rakyat, Ceng tetap dipakai sebagai gubenur yang mengepalai dua provinsi.

Perhatian :
Disaat kekuasaannya berada di puncak, dimana sudah sangat mengancam pemerintahan pusat, Ceng Guo Fan memutuskan untuk mundur, agar tidak menimbulkan kecurigaan pemerintah pusat yang tidak diperlukan.

Hikmah yang dapat diperoleh :
Orang yang mengerti kapan harus maju dan kapan harus mundur adalah orang yang paling bijak. Hal itu sesuai dengan jalan tengah yang dianjurkan oleh kitab Yijing.

Jakarta, 15 February 2010


Xiangyi



Categories: Cerita Kebijaksanaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: